Redaksi Puisina

PUISI PENDEK ISLAMI "SUBUH"

Bila hidup ini lucu, mestinya kamu tertawa bukan karena nasib orang orang lain, tapi nasibmu sendiri.

Sajakmu mewakili udara
Kuhirup tanpa jeda
Menyatu darah
Berdetak hingga pengujung nyawa.

Aku mulai kehabisan cara, dan mengharapmu aku seperti menjaring udara.
Do'aku mengudara. Mengembara ia, mencari do'amu yang senadaPerkataanmu mengobrak-abrik dada, mengusir semua udara, hingga sesaklah yang tersisa

Tak terasa malam tlah berganti subuh
Baru tersusun bait puisi ini
Tak bermakna dan sia sia..

Subuh, Iman bertanya pada Tuhan "apa bisa kau hilangkan dingin ini?".
Dan...
Tuhan tak mau menjawab.

Kabut subuh belum pergi, sayup kudengar ketukan alu di lumbung padi serta kokok ayam bersahutan menanti mentari

Hampir subuh, namun puisiku belum rampung untukmu. Tak pernah lelah kumenunggu, seribu rindu yang belum bertemu.

Dr lentera subuh mengumandangkan pilu yang bersarang di balik puisi malam yg kehilangan cerita.


Selamat pagi yang jauh. Ada rindu yang kutitip pada doa. Melewati azan subuh pukul lima.


Pada subuh yang dingin, kulangitkan doaku sebagai selimut penghangat untukmu, ibu..meski ragaku tak menjamahmu, tapi hatiku selalu memelukmu

di jelang subuh ini kan kuhantarkan sebait puisi
tanpa pinta tuk disukai
tanpa harap tuk dibenci
hanya lewat aksara aku hanya ingin berbagi


Read More
Redaksi Puisina

SAMBUNG PUISI "RATAP ISAK DI UJUNG LORONG" GROUP WA

RATAP ISAK DI UJUNG LORONG

Semoga kesedihanku tidak berujung berhenti harap
untuk mensyukuri nikmat kepadamu.

Mengapa harus ada sedih
allah tempat terbaik bersandar
dengan kitab suci penyambung irama
dan figur Nabi yang terayomi.

Teduhnya ruang telah tercipta di mata sajak
helaian waktu berputar membagi segala warna
dan kita semua menjalani
segala aral di atas kepala.

Sadar resiko hidup adalah mati..
Tak perlulah kita meneteskan air mata atas nama cinta
Bukankah lebih baik kita menangis karena dosa

Entah mengapa?
aku bertahan setelah sakit
apa yang membuat sakit
ach ...
terima apa yang telah pergi
bersama hujan yang mereda

Lupakan jejak kemarin
beserta patahan hujan
derasnya hanya menambah kalimat mati
lalu tumbang setelahnya.

Terlupa duka yang bertahta, terkikis luka yang menyayat. Adalah engkau juga yang mengubahnya. Benciku menjelma jadi rindu.
Yoislah....

Luka di lorong acapkali menguap
membuat perjalanan linglung di ujung jalan
sebab lama merawat badai
hingga lupakan kunci awal tujuan.

Aku bertanya pada ruang yang makin sempit. Menyudutkanku dengan rindu yang menggigil tanpa jawab. Ke mana gerangan dirimu?


*TAMAT GANTI TOPIK*
@⁨ERIN ENDANG APRILIANI PUISINA⁩
@Layla Majnun
@⁨Oktami Nurkamah Puisina⁩
@+62838-6577
Read More
Redaksi Puisina

25 BAIT PUISI KOPI PAGI

Inilah 25 bait puisi pagi yang di ambil dari berbagai sumber, puisi pendek tentang kopi di pagi hari , mudah mudahan bisa jadi sumber inspirasi dan semangat untuk menjalani hari.


Pagi yg tnp puisi, setuang kopi mencaci. Menggigit setengah roti dgengan perasaan tak kunjung terobat

Karna kau terbit setiap pagi, hadir mentarimu yg selalu ku nanti, sebab ucap tak selalu memikat hati, mencoba menyusun bait bait puisi.


Aku merasa dalam rindu dan terbuai dalam perasaan cinta saat ku sambut pagi dengan dinginya angin #puisipagi

Puisi tidak menyelamatkan apapun, namun memberi keberanian membuka jendela dan pintu pada pagi hari

Cemas menanti di beranda pagi, pekat kopi bertarung imaji. Ilusikan luka di hati, Mengubur rindu dalam puisi.

kopiku pagi ini pahit tanpa gula, namun bisa berubah manis karna melihat kamu tertawa

Seseorang harus meminum kopi tiap pagi. Lalu menulis puisi untuk seseorang yang tak pernah meminum kopi.

Selamat pagi kopi
Yang selalu memberi inspirasi
Di setiap bait-bait puisi
Menuliskan perasa'an hati
Untuk kekasih hati ataupun kawan sejati


Kabut pagi dilubuk hati kupahami sbagai keindahan awal dari sebuah cerita tntang indahnya kenangan, meski nyatanya kita tak lagi berpegangan


Al fatihah
Awali pagi dengan tengadah
Melangit mengharap berkah
Menabur doa2 munajah
Semoga segala terijabah
Hilang semua beban gelisah

Menjelang pagi tawamu selalu mengiringi, tanpa gelegar isak tangis getaskan bumi, seduh kopi tanpa basa-basi.

Pagi, udaramu sangat dingin, menggigil tubuh ini, tanpa dekapan, hanya angan yang memeluk sepi

Kopi di pagi hari adalah semangat
bisa menikmatinya adalah rahmat
brsamanya, sembari kutuliskan puisi
dan narasi agar kenikmatannya membekas

Di setiap pagi,akan kupastikan denting nada bergema dalam puisi tersemai mutiara budi diiringi wangi nafas doa meski raga tak bersua


Dibalik jendela pagi
ada cinta Tuhan
terpampang rapi
nikmatilah dengan hati

Semesta berpaling,
Menarikan kesunyian abadi,
Satu yang semua,
Mendamaikan jiwa manusia.

Pada hujan yang membawa rindu
Menyapa hati di pagi yang sendu
Menunggu mimpi menjadi nyata
Namun sayangnya tersadar lagi dan terluka


Waktu sudah di gerbang pagi, mata masih begitu birahi.
Wajahmu ngiang di kepala ini, hingga susah tidur terjadi lagi

Pagi dan sebuah senyum yang tertinggal di secangkir kopi. Itu dahulu, sebelum punggung kita beradu pandang dalam seteru.


Remang malam menyusuri benak, tersurat rupa dambaan hati. Sinarnya pagi redupkan luka, dari cinta tak terbalas.


Secangkir bayang, tersaji...
Indah, menyanding mentari.
Meramu cerahnya pagi... Menyempurnakan mimpi


Pagi memekarkan banyak cerita tentangmu, pada secangkir kopi dan selembar puisi, kutuangkan kata, kata yg tiap berbisik cuma menyebut namamu


Selamat pagi, penyair. Sudahkah kau mandikan puisi yang bangkit dari pendar mentari, sudahkah kau kenang wajah yang datang lalu pergi?


Pagi perindu, sajak telah khatam di lengkung alis matamu. Sementara puisi, kalimatnya telah tamat di lesung manis pipimu.


Dan kalaupun embun berlinang bukan pada putik-putik pagi tapi pada indahnya sang untai puisi, karena engkau embun yang meneteskan kesejukkan

Rawa pagi dalam embun mengelus,
Terendus halus halwa.
Hati empunya,
Sujud kala dhuha,
Sebuah kecewa--
Tak terungkai kata.
Read More
PUISI CINTA

PUISI KEROYOKAN " PESTA HENING" GROUP WA

Haha...aku tau kau tak mencela
Aku suka gayamu berkata
Murni apa adanya
Tanpa dibumbui maknaHaha...aku tau kau tak mencela
Aku suka gayamu berkata
Murni apa adanya
Tanpa dibumbui makna berdosa

Ayolah Zulfia...
Kita berkawan dekat dalam maya
Tak usah kau risaukan setiap kata hampa
Cukuplah kau berkata
Tentang apa yang kau percaya
Meski kita tak tau muka

Salam sore @⁨Redaksi Puisina⁩ @⁨Agustin Puisina⁩ @⁨Pandji Puisina⁩ @⁨Irvan Puisina⁩ @⁨Zulfia Puisina⁩
Sebentar lagi raja siang kembali ke peraduan
Apakah disini sudah ada rencana untuk malam nanti
Pergi ke pesta lagi atau minum kopi

Rasanya tak pernah ada cukup waktu, an,
untuk mencerna dan meresapi semua yang terlewati setiap hari.
Seperti tak pernah ada hari ini..
Dan pada akhirnya
yang terang tak selamanya bunyi, an
yang gelap tak selamanya sunyi.
Malam bersahabat dengan diam.
@⁨Agustin Puisina⁩
Pesta..bicara soal pesta.. Tidakkah kau lelah dengan semua itu.. Tidakkah kau punya rencana lain,entah sekedar ngopi bersama kawan seperjuangan atau paling tidak istirahatkanlah dunia hayal dan imajimu dan kembalilah kau ke dunia nyata tanpa ilusi..

@layla majnun
Aku mengembara bersama dedaun yang terbang
Dalam buncah adzab jaman yang memerih.
Diantara puing-puing doa yang berserakan
Orang-orang sudah lupa ingatan, dimana harga diri sudah mati.
@⁨Agustin Puisina⁩
Seorang tukang parkir pun bisa saja membelokkan kemudi,walaupun bukan dia sendiri yang menjalankannya.
@⁨Hardi Wiranata Puisina⁩
Sudah aku coba kawan
Tapi aku tak mampu membelokbkan kemudi sendiri
Sedangkan aku seorang tukang parkir biasa
@layla majnun
Aku mengembara mencari sajakku,
Yang hilang ketika badai sudah menggulung
Ketika langit sudah menjadi mendung
Khabar tentang kesepian sudah berakar di pucuk gunung
Orang-orang tetap memakai payung hitam
Sebagai kata akhir dari kesedihan.
@⁨Yoga Puisina⁩
Walaupun kamu cuma tukang parkir biasa kamu pasti bisa membelokan kemudi nya sendiri dengan berusaha sekuat tenaga
@⁨Hardi Wiranata Puisina⁩
Tidak bisa kawan
Kemudi ku telah di telan waktu
Zaman merubah men-jingga
Kulit memudar tanpa rasa
Lebih baik kita berpesta saja
Dari pada kita bermenung dengan waktu kosong
@layla majnun
Seperti senja yang mengucap pisah
Seperti lautan yang berujar ombak
Rambut matahari yang kusut, menyapa dada yang menyesak
Kembang-kembang yang layu, masih menidurkan pepohon
Di ujung tangisan.kini, tak ada catatan antara kenyataanCukuplah kau berkata
Tentang apa yang kau percaya
Meski kita tak tau muka

Salam sore @⁨Redaksi Puisina⁩ @⁨Agustin Puisina⁩ @⁨Pandji Puisina⁩ @⁨Irvan Puisina⁩ @⁨Zulfia Puisina⁩
Sebentar lagi raja siang kembali ke peraduan
Apakah disini sudah ada rencana untuk malam nanti
Pergi ke pesta lagi atau minum kopi

Rasanya tak pernah ada cukup waktu, an,
untuk mencerna dan meresapi semua yang terlewati setiap hari.
Seperti tak pernah ada hari ini..
Dan pada akhirnya
yang terang tak selamanya bunyi, an
yang gelap tak selamanya sunyi.
Malam bersahabat dengan diam.
@⁨Agustin Puisina⁩
Pesta..bicara soal pesta.. Tidakkah kau lelah dengan semua itu.. Tidakkah kau punya rencana lain,entah sekedar ngopi bersama kawan seperjuangan atau paling tidak istirahatkanlah dunia hayal dan imajimu dan kembalilah kau ke dunia nyata tanpa ilusi..

@layla majnun
Aku mengembara bersama dedaun yang terbang
Dalam buncah adzab jaman yang memerih.
Diantara puing-puing doa yang berserakan
Orang-orang sudah lupa ingatan, dimana harga diri sudah mati.
@⁨Agustin Puisina⁩
Seorang tukang parkir pun bisa saja membelokkan kemudi,walaupun bukan dia sendiri yang menjalankannya.
@⁨Hardi Wiranata Puisina⁩
Sudah aku coba kawan
Tapi aku tak mampu membelokbkan kemudi sendiri
Sedangkan aku seorang tukang parkir biasa
@layla majnun
Aku mengembara mencari sajakku,
Yang hilang ketika badai sudah menggulung
Ketika langit sudah menjadi mendung
Khabar tentang kesepian sudah berakar di pucuk gunung
Orang-orang tetap memakai payung hitam
Sebagai kata akhir dari kesedihan.
@⁨Yoga Puisina⁩
Walaupun kamu cuma tukang parkir biasa kamu pasti bisa membelokan kemudi nya sendiri dengan berusaha sekuat tenaga
@⁨Hardi Wiranata Puisina⁩
Tidak bisa kawan
Kemudi ku telah di telan waktu
Zaman merubah men-jingga
Kulit memudar tanpa rasa
Lebih baik kita berpesta saja
Dari pada kita bermenung dengan waktu kosong
@layla majnun
Seperti senja yang mengucap pisah
Seperti lautan yang berujar ombak
Rambut matahari yang kusut, menyapa dada yang menyesak
Kembang-kembang yang layu, masih menidurkan pepohon
Di ujung tangisan.kini, tak ada catatan antara kenyataan
Read More
PUISI CINTA

SAMBUNG PUISI " SUARA HATI DI BALIK KETIKAN JARI " GROUP WA

"SUARA HATI DI BALIK KETIKAN JARI "

Kedepan sinyal pergi
Di dapur sinyal mendengkur
Masa iya ku harus di pohon mangga
Mengintip orang bercinta
Bersimbah tinta pena

Berarti aku salah dengar
Betapa bingar telinga ini
Telah mendengar suara tak suci

Sungguh malang nasib org pedesaan
Menanti janji kebahagian dari org berdasi
Tapi hanya ilusi

Tak mengapa kau intip aku kala bercinta
Toh, aku ingin lebih liar dalam menuangka tinta
Supaya kau saksika betapa perkasa pena ku punya
Hingga bermuncratan tinta tinta makna
Diatas peraduan dunia

Sungguh dewasa kalimat nya
Anak kecil harus tutup muka
Jika tak ingin terjamah
Atau terjerumus dalam dunia fana
Cemburu aku lihat kau berdansa dengan pena
Meliuk liuk sampai klimak kau muntahkan imajinasi banjir inspirasi
Awas kau...

Itu bukanlah suara tak suci
Itu hanyalah rintihan lugu duniawi
Yang kau tak mengerti
Memang tak tertata rapi, tapi penuh dengan arti
Yang terlahir dari alam imaji

Tak perlu kau mengancam dengan pena kecilmu
Tak berarti apa apa untuk ku
Bagus jika kau cemburu
Karena aku adalah raja bidak yang ditandu
Oleh sombongnya retorika waktu

Maaf kawan tadi saya di panggil mck
Ada hasrat yg tak bisa di warna dengan kata kata

@⁨Zulfia Puisina⁩ @⁨Yoga Puisina⁩ @⁨Pandji Puisina⁩ @⁨Hardi Wiranata⁩

Kutegakkan huruf-huruf demi seikat kata
Ku untai untukmu yang manja
Sebilah senyuman yang mengiringi tarian pena
Membalas tawa indahmu di langit tenang bertabur bintang

Cepat ambil lagi penamu ayo lukis dunia bersama
Mumpung ada bidadari hadir di antara kita

Marah adalah jiwaku saat ini
Tapi bahagia mereka
Menghapus semua amarah
Sakit memang meradang

Marahmu sumber inspirasi
Inti energi hati...
Kesabaran dan ketulusanmu
Memperindah duniaku..
Teruslah marah biar makin memerah dan merekah

Hei...janganlah kau merayu si tua
Lagipula aku bukanlah si manja
Yang bisa kau ajak bersenggama
Aku hanya ruang hampa
Tanpa udara yang berpegangan pada pena

Marah adalah jiwaku saat ini
Tapi bahagia mereka
Menghapus semua amarah
Sakit memang meradang

Marahmu sumber inspirasi
Inti energi hati...
Kesabaran dan ketulusanmu
Memperindah duniaku..
Teruslah marah biar makin memerah dan merekah

Sudah cukup tua aku mengerti kata marah

Lanjut....

Wawh...si wanita mulai terjaga
Dari keangkuhan malunya
Dia mulai bicara dengan pena

Ayo kita ajak dia ke pesta
Terserah dia mau pakai busana apa
Jangan sampai dia terluka dan cela

Aku tak akan pernah kembali
Karena aku tak pernah beranjak dari tempatku berdiri
Jadi janganlah kau berbalik diri
Cukup lihat aku disini

Jemput @⁨Zulfia Puisina⁩  dengan cinta , buat dia tertawa sampai lupa bagaimana caranya menangis , lupa rasanya bersedih dan lupa rasanya sakit hati , dengan pena kita lukis surga di hatinya dan biarkan dia bahagia
Hei...dengan apa kau tarik kereta itu
Jika rodanya saja dari huruf tak tertata

Kan ku tarik dengan janji janji
Dan ku gauni dengan mimpi mimpi

Aku tahu akan ada satu bantuan
Entah dari mana datangnya
Fikirku sudah berhenti
Inilah saatnya
Aku akan menempuhnya

Bisakah kau tepati janji
Bisakah kau urai mimpi jadi sejati
Kawan, janganlah terlalu berimajinasi

Ini lah kawan
Lihat tanya morfosa
Apa jawab dunia
Tak ada yg tahu,
Semua ini kebetulan belaka
Aku berjanji
Dalam dunia imaji
Akan ku tepati janji dan menjadi nyata

Ya masuk lah ke dalam kereta
Kita akan pergi ke pesta dansa
Dan akan bertemu @⁨Pandji Puisina⁩ @⁨Irvan Puisina⁩
Wanita, jadilah perkasa
Ini dunia, bukan surga
Maka berjalanlah diantara duka
Dan kau akan menemukan bahagia
Read More